Konsultasi Populasi Kunci Mengenai Global Fund Dengan Anggota CCM Indonesia

Pertemuan dibuka pada malam 2 November 2009, dimulai dengan penjelasan Global Fund sebagai mekanisme pendanaan 3 penyakit yaitu AIDS, Tuberculosis dan Malaria yang di-inisiasi oleh Sekjen PBB Kofi Anan. Permintaan ini diakomodir dalam pertemuan UNGASS 2001 yang menjadi bagian komitmen pencapaian Millenium Development Goals (MDGs). CCM Sendiri adalah sebuah mekanisme koordinasi tingkat negara yang menjadi syarat mutlak pengajuan dana kepada Global Fund untuk 3 penyakit diatas. CCM Indonesia telah memiliki buku panduan yang menjelaskan tata kelola CCM baik dari apa itu CCM hingga tugas, fungsi peran dan tanggung jawab. Buku ini disebut CCM Governance Manual yang disusun pada tahun 2007.

Saat ini CCM Indonesia beranggotakan 39 orang yang berasal dari sektor yang berbeda - beda yaitu Pemerintah, Masyarakat Sipil dan MItra Pengembangan Internasional.

Sektor masyarakat Sipil diwakili oleh 16 orang yang terdiri dari 2 orang perwakilan terinfeksi HIV berasal dari Bali Plus dan Yayasan Pelita Ilmu, 7 orang perwakilan dari LSM berasal dari Yayasan Spiritia, Ikatan Pengendalian Parasit Indonesia, PPTI, PKBI, Yayasan Bangun Indonesia, Koalisi Indonesia Sehat, Komite Pengendalian Narkotika dan Obat - obatan, 1 perwakilan kelompok Bisnis APPINDO, 1 orang yang telah sembuh dari infeksi TB diwakili oleh Aisyiah, 2 orang perwakilan Akademisi dan organisasi Profesi yaitu Ikatan Dokter Indonesia dan IAKMI serta 3 perwakilan Organisasi Berbasis Agama yaitu Persatuan Gereja Indonesia, PP Muhammadyah dan Nadhlatul Ulama. Sektor

Pemerintah sendiri terdiri dari 14 orang yang terdiri dari 1 orang Kementrian Sosial, 1 orang Kementrian Pendidikan, 1 orang Kementrian Tenaga Kerja dan Tansmigrasi, 1 orang dari BKKBN, 1 orang anggota Komisi IX DPR RI, 2 orang dari Kementrian Kesehatan, 1 orang dari BAPENAS, 1 orang dari Badan POM, 1 orang dari KPAN, 1 orang dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan, 1 orang dari Kementrian Keuangan, 1 orang dari BNN, 1 orang dari Kementrian Dalam Negeri

Sektor Mitra Pengembangan Internasional 9 orang teridiri dari 3 perwakilan dari KNCV, 1 orang dari UNICEF, 1 orang dari UNAIDS, 1 orang dari AUSAID, 1 orang dari USAID, 1 orang dari WHO dan 1 orang lagi dari European Union).

Diskusi mengenai Global Fund di Indonesia pada acara Pertemuan Nasional Populasi Kunci dalam Penanggulangan AIDS semakin hangat dengan beberapa isu uatama yang mewarnai diskusi. Dimulai dari keluhan peserta diskusi mengenai kemungkinan tumpang tindih penggunaan dana GF Ronde 4 dan Ronde 8 dikarenakan intervensi yang sama pada satu wilayah sehingga dapat mengakibatkan penghitungan ganda indikator dibidang penjangkauan dan pendampingan. Kecenderungan menurunnya kemampuan Kimia Farma sebagai salah satu produsen obat ARV Nasional dikarenakan metode Voluntary Pooled Procurement (VPP) dimana uang Global Fund hanya boleh dibelikan obat ARV dari produsen yang telah lolos uji prekualifikasi WHO. Hingga diskusi mengenai mekanisme nominasi Penerima dana hibah prinsip dari perwakilan CSO yang berujung pada pengusiran beberapa perwakilan Jaringan Nasional orang terinfeksi HIV, pekerja seks dan Gay Waria Lelaki seks dengan lelaki lain (JOTHI, OPSI dan GWL-INA) yang sampai saat ini menit pertemuannya tidak dapat diakses oleh masyarakat.

Pada akhir diskusi, 5 organisasi Jaringan Nasional yaitu IPPI, OPSI, GWL-INA, PKNI dan JOTHI mengekspresikan keinginan untuk dapat memilih sendiri perwakilannya mereka sebagai anggota CCM yang baru. Rencana pemilihan ulang anggota CCM dilakukan karena masa menjabat sebagai anggota CCM sudah berakhir. Rencananya pemilihan keanggotaan CCM Indonesia sendiri akan diselenggarakan pada tanggal 23 November 2009. Dr. Firman Lubis yang bertindak sebagai narasumber sekaligus anggota CCM Indonesia malam itu berjanji untuk memfasilitasi aspirasi untuk lebih mendorong transparansi dan pembukaan kesempatan melibatkan diri para penerima manfaat utama dana Global Fund di Indonesia melalui proses 'perwakilan yang benar'.

(Program Penguatan Masyarakat Sipil dalam Pengelolaan Global Fund/CSAT Indonesia di-implementasikan oleh JOTHI).

Komentar

Diskusi mengenai Global Fund

Diskusi mengenai Global Fund di Indonesia pada acara Pertemuan Nasional Populasi Kunci dalam penanggulangan AIDS semakin hangat dengan beberapa isu utama yang mewarnai isi diskusi. Kemungkinan tumpang tindih penggunaan dari GF Ronde 4 dan Ronde 8 dengan intervensi diwilayah yang sama sehingga dapat menyebabkan penghitungan ganda indikator dibidang penjangkauan dan pendampingan

Very good post, thanks a

Very good post, thanks a lot.

Beri Komentar Baru

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options